DepokSpotLight – Semangat memperingati HUT ke-81 RI di Kota Depok diwujudkan dengan cara berbeda oleh para pegiat lingkungan.
Di kawasan Sungai Ciliwung, Kota Kembang, Grand Depok City (GDC), pengibaran bendera Merah Putih berlangsung di tengah aliran sungai.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tradisi yang digelar Komunitas Ciliwung Depok (KCD) bersama mahasiswa dan dosen Program Studi Biologi STKIP Arrahmaniyah.
Pengibaran bendera di kawasan sungai tidak sekadar menjadi perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi pengingat mengenai pentingnya menjaga Ciliwung dari berbagai persoalan lingkungan.
Prosesi berlangsung khidmat ketika tim pengibar bendera turun dari perahu dan membawa Sang Saka Merah Putih ke lokasi pengibaran di tengah aliran Ciliwung.
Pengibaran bendera di sungai tersebut telah menjadi tradisi yang dilakukan sejak 2016.
Tahun ini, kegiatan kembali dilaksanakan dengan melibatkan unsur komunitas, akademisi, serta mahasiswa sebagai bagian dari kampanye kepedulian terhadap keberlangsungan ekosistem sungai.
Suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Momentum tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan sumber daya air.
Pembina KCD, Muhammad Abduh, mengatakan kegiatan tersebut memiliki pesan khusus mengenai hubungan antara kemerdekaan dan kelestarian lingkungan.
“Indonesia merdeka, tetapi sungai juga harus merdeka,” ujar Muhammad Abduh penuh penekanan saat menyampaikan makna filosofis di balik aksi pengibaran bendera tersebut, Senin (17/8/2026).
Menurut Abduh, sungai memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat sehingga keberadaannya harus dijaga secara berkelanjutan.
Ciliwung tidak hanya dipandang sebagai aliran air, tetapi juga bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan di wilayah yang dilaluinya.
“Bahwa sumber kehidupan itu air, dan apa pun segalanya tercipta dari air, maka dari sungai lah juga kita mulai untuk menjaga kehidupan ini,” tuturnya.
Kolaborasi antara KCD dan STKIP Arrahmaniyah juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.
Kerja sama yang telah memasuki tahun ketiga itu tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan simbolis, tetapi juga melalui aktivitas lingkungan dan kajian akademis.
Para pegiat lingkungan secara rutin melakukan berbagai kegiatan untuk menjaga kondisi Ciliwung.
Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui pembersihan sampah di kawasan sungai serta kegiatan edukasi yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem perairan.
Kondisi Sungai Ciliwung menghadapi sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Sampah, pencemaran, perubahan fungsi sempadan, hingga keberadaan spesies invasif menjadi sejumlah tantangan yang dinilai dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem sungai.
Kegiatan yang digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 RI itu kemudian menjadi ruang untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Semangat kemerdekaan dinilai tidak hanya berkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga dengan tanggung jawab mempertahankan sumber kehidupan bagi generasi mendatang.
Dalam rangkaian kolaborasi tersebut, akademisi STKIP Arrahmaniyah juga melakukan kajian mengenai keberadaan ikan sapu-sapu dan spesies invasif lainnya.
Penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya memahami ancaman terhadap keanekaragaman hayati di Sungai Ciliwung.
Keberadaan spesies invasif menjadi perhatian karena dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem apabila populasinya tidak terkendali.
Karena itu, kajian akademis diperlukan untuk mengetahui kondisi lingkungan sekaligus menjadi dasar dalam menentukan langkah konservasi yang tepat.
Bagi komunitas lingkungan, pengibaran Merah Putih di tengah Ciliwung juga menjadi pengingat bahwa menjaga sungai membutuhkan tindakan nyata dan konsisten.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi dapat memperkuat kepedulian masyarakat terhadap kondisi sungai.
Kolaborasi antara komunitas dan perguruan tinggi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan lingkungan.
Selain memperoleh pengalaman di lapangan, mahasiswa dapat melihat secara langsung persoalan ekologis yang dihadapi sungai serta pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kelestariannya.
Pesan yang dibawa dari kawasan Sungai Ciliwung pada peringatan kemerdekaan tahun ini pun menjadi lebih luas.
Pengibaran bendera di tengah sungai menjadi simbol bahwa kemerdekaan dapat dimaknai melalui upaya menjaga lingkungan agar tetap memberikan manfaat bagi kehidupan.
Sungai Ciliwung yang mengalir melewati berbagai kawasan permukiman memiliki peran penting bagi masyarakat.
Kondisi sungai tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan komunitas, akademisi, mahasiswa, dan warga di sepanjang alirannya.
Melalui kegiatan tersebut, KCD dan STKIP Arrahmaniyah kembali mengajak masyarakat melihat persoalan sungai dari perspektif yang lebih luas.
Merawat Sungai Ciliwung berarti menjaga sumber air, keanekaragaman hayati, serta lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pengibaran Merah Putih di tengah aliran Sungai Ciliwung akhirnya menjadi simbol perpaduan antara nasionalisme dan kepedulian ekologis.
Di tengah perayaan HUT ke-81 RI, para relawan lingkungan membawa pesan bahwa kemerdekaan juga perlu diwujudkan melalui sungai yang bersih, sehat, dan mampu terus menopang kehidupan masyarakat.






















